TV Yang Mendidik

Ngilu rasanya tiap hari harus melihat anak kecil nyanyi lagu-lagu cinta, nonton sinetron yang seharusnya cocok ditonton oleh orang tua, atau bisa aku katakana lebih cocok ditonton oleh nenek-nenek. Kuis yang isinya hanya pembohongan publik untuk mendapatkan sesuatu secara instan tanpa harus bersusah payah bekerja. Dan yang lebih parah adalah ternyata TV kita tidak memberikan siaran yang mendidik anak-anak kita, tapi justru membodohi anak-anak kita, makanya lebih baik jauhkan anak kita dari depan TV dan didik mereka dengan benar.

Pernah suatu hari, aku lupa hari apa itu dan kapan, aku nonton siaran di TV tepatnya di TVRI entah hari dan jamnya kapan aku lupa. Waktu itu tidak sengaja aku mengganti channel di TV untuk mencari siaran yang bagus, karena pasti ketika iklan ditayangkan tidak sedikit dari kita yag langsung mengganti channel di TV. Meskipun pada dasarnya iklan di TV dibuat untuk tujuan ditonton oleh pemirsa yang menonton, tapi sejujurnya penonton tidak butuh iklan itu, penonton lebih butuh siarannya bukan iklannya. Tapi kalau tidak dari iklan, dari mana lagi stasiun TV mendapatkan pemasukan untuk mengganji karyawannya?

Lanjut lagi ke siaran yang aku tonton di TVRI itu, aku masih ingat bener siaran tentang apa, yaitu acara dari DWTV yang memiliki stasiun di Jerman sana. Siaran tentang bagaimana seorang pengusaha stasiun TV swasta yang memfasilitasi kekurangan kaum terpinggirkan di daerah di India sana. Dia menciptakan sebuah inovasi, meskipun sebenernya bukan inovasi yang baru, tapi ini patut diacungi jempol oleh kita semua, karena dia telah berjasa bagi negerinya untuk mendidik para kaum yang bisa dikatakan sebagai kaum yang buta aksara. Di stasiun TVnya itu dia menayangkan film-film (karena waktu aku tonton yang dicontohkan adalah film India) yang semuanya menggunakan subtitle di setiap percakapan yang ditayangkan di TV itu. Padahal itu adalah film yang berbahasa India, bukan film berbahasa Inggris apalagi China. Hal ini dilakukan oleh sang pengusaha untuk membantu masyarakat di daerah terpencil untuk dapat membaca, karena setiap kali adegan berlangsung pasti terjadi percakapan, dan setiap percakapan selalu diikuti oleh subtitle di bawahnya. Menurutku ini merupakan sebuah hal kecil yang mampu membantu pendidikan di negerinya lebih maju dibandingkan di negeri kita tercinta ini. Hanya soal subtitle saja belum hal yang lain loh, bayangkan bisa sampe masuk ke TV internasional yang bermarkas di Jerman sana, ini patut dicontoh oleh kita.

Aku juga pernah membaca sebuah tulisan di blog tetangga yang pernah belajar di negeri Sakura (Jepang) sana. Sang penulis yang berkelamin cewek itu bercerita kalau disana ada stasiun TV nasional, bahkan sudah internasional karena kita bisa mengakses TV itu dari negera kita dengan menggunakan antena parabola tanpa harus berbayar. Iya betul, stasiun TV itu adalah NHK, meskipun aku sendiri lupa apa kepanjangan dari tulisan NHK itu, tapi yang pasti ini TV sangat sering aku tonton di rumah. Mbak penulis blog itu bercerita kalau di NHK itu ada yang namanya tayangan yang memang setiap hari dikhususkan untuk pendidikan, hingga ada channel sendiri di NHK yang bisa disebut sebagi channel pendidiknya sana, untuk memberikan inspirasi bagi para pendidik. Di NHK itu ada channel yang setiap dua minggu sekali menayangkan bagaimana guru mengajar di kelas. Tayangan ini kata mbaknya ditayangkan dua kali seminggu yaitu pada tengah malam waktu Indonesia dan pada akhir pekan waktu Indonesia. Tayangan ini menurutku sangat menginspirasi sekali khususnya bagi pendidik yang terjun langsu di kelas untuk mendidik anak-anak kita. Hal semacam ini memang menurut saya perlu sekali karena kalau tidak diberikan inspirasi semacam ini kita sebagai pendidik kadang sering lupa bahwa masih banyak metode/cara mendidik yang lebih baik kita gunakan dalam kondisi siswa terntentu. Siswa sendiri tidak selamanya selalu mengalami kondisi yang baik dalam pembelajaran. Ada kalanya mereka merasa suntuk, bosan, senang, bergairah dan lain sebagainya dalam menghadapi pembelajaran yang kita terapkan. Sehingga inspirasi dan inovasi-inovasi dalam pendidikan selalu diperlukan untuk menciptakan ruang belajar mereka lebih menyenangkan dan kita sendiri sebagai pendidik akan lebih mudah dalam menyampaikan sesuatu kepada murid kita.

Sebenernya Indonesia juga memiliki stasiun TV yang dikhususkan untuk pedidikan, yaitu TV E (edukasi) yang ada di bawah komando pustekom (pusat teknologi dan komunikasi) kementrian pendidikan nasional. Tapi, aku perhatikan TV yang satu ini bener-bener gak jelas keberadaanya dibandingkan dengan stasiun TV swasta dan Nasional yang lebih sering menayangkan acara pengobatan alternatif dan menjual bermacam-macam obat ramuan tradisional untuk mengobati penyakit. Rasanya TV sudah seperti pasar minggu pagi di alun-alun/lapangan kota yang setiap hari minggu pagi menggelar dagangannya semacam obat-obatan koreng, obat kuat dan obat yang lainnya. TVE yang katanya milik pemerintah itu sendiri masih sangat susah untuk diakses oleh kalangan masyarakat luas. Siarannya juga gak jelas kapan saja, jam berapa acaranya apa, apa yang dibahas. Kalaupun ada acara, acara yang ditayangkan rasanya seperti siaran TV kuno dengan model/artis yang berdandan norak, lebih tepatnya kuno. Ya mungkin, karena memang waktu pengambilan gambarnya acara itu adalah 10 tahun yang lalu kali ya. Selain itu TV E sendiri lebih sering manayangkan acara pembahasan soal pelajaran SD hingga SMA. Jarang sekali, atau bahkan aku bisa mengatakan tidak pernah menjumpai ada acara yang membahas bagaimana cara mengajar dengan metode ini, dengan metode itu. Bagaimana cara belajar dalam kondisi ini, kondisi itu, bagaimana cara mendidik anak di rumah dan lain hal yang seharusnya memang harus ada di TV itu.

Tulisan ini aku males untuk membahas soal TVRI karena gak perlu dibahas aja kekurangan dari TV ini sudah nampak banyak banget, seperti acaranya gak bermutu, terlalu birokratis, jadul, siaranya gak keren. Pembawa acaranya gak ganteng/cantik, isinya cuman dodolan jamu (jualan obat) doang, dan masih banyak yang lainnya. Paling ya yang nonton ini adalah orang-orang yang terpaksa nonton aja, kalau gak terpaksa ya gak bakal deh nonton TVRI.

Ok, setelah ngomong ngalor ngidul seperti di atas, sekarang aku mau menawarkan beberapa hal yang bisa dibaca dan kalau mau diimplementasi pada stasiun TV yang saya sebutkan di atas agar menjadi lebih baik, yang katanya TV pendidikan ya semoga bener-bener mendidik, yang katanya TV pemerintah yang seharusnya melayani rakyat yang kehausan informasi bukan malah dibodohi.

  1. Yang pertama, adalah lebih baik ditata ulang/dirancang ulang visi-misi dari semua TV itu, karena visi dan misi dalam hal apapun akan sangat menentukan langkah selanjutnya dalam menjalani semua hal.
  2. Selanjutnya setelah dirancang ulang visi-misinya, sekarang perlu diperbaiki lagi manajemen yang ada. Tempatkan orang yang tepat pada setiap posisi (right man on the right place). Jangan sampe hanya karena itu milik pemerintah yang ditempatkan pada posisi yang adalah orang yang pernah berjasa mengangkatnya ke posisi sekarang. Banyak kok para ahli dalam hal ini yang bisa membawa kebagusan di dalam birokrasi yang ada.
  3. Pikirkan lagi apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya ditayangkan di TV itu. Pemikiran ini bisa dilakukan dengan cara mengadakan polling atau jajak pendapat kepada semua masyarakat Indonesia untuk mendapatkan masukan dan kritikan demi terciptanya perubahan yang ada.
  4. Diperjelas lagi jam tayang acaranya, sasaran siaranya siapa/untuk siapa.
  5. Karena masih susah diakses oleh masyarkat luas di seluruh indonesia, seharusnya TV itu diberikan hak/kewenangan lebih agar lebih mudah diakses oleh seluruh penduduk di Indonesia yang tidak memiliki parabola, agar mereka juga menikmati TV yang bermutu.
  6. Jangan cuman di Indonesia siarannya, keluar negeri dong, go internasional layaknya NHK atau DW TVnya Jerman itu.
  7. Setelah go Internasional seharusnya TV juga harus menyiarkan tayangan khas Indonesia pada waktu-waktu masyarakat Internasional berisitirahat santai di rumah, agar mereka juga dapat menikmati tayangan khas Indonesia dan semakin penasaran dan tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. Ini juga bisa menambahkan masukan buat bangsa kita dari segi pariwisatanya kan. Coba deh sana cek TV Asian News Channel, disana ada tayangan yang namanya Welcom to Taiwan. Itu kan acara keren yang menyajikan tayangan khas potensi negara Taiwan, mulai dari wisatanya, makannya, alamnya dan produk yang dihasilkannya. Kurang apa coba contoh yang diberikan oleh bangsa lain ?

Itu dulu yang ingin saya tulis, kalau dapet ide lagi yang lebih mbelink, aku bakal tulis disini, meskipun tulisan ini gak dibaca oleh banyak orang tapi setidanya aku pernah berpikir tentang hal itu semua. Dan kalau suatu hari ada pihak yang bersangkutan membaca tulisan ini dan sadar akan pentingnya hal semacam itu, aku sangat bersyukur sekali bahwa masih ada orang yang perduli dengan tayangan di TV.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s