MUDA YANG (SELALU) MENGALAH

Jadi sekarang tidak ada lagi dan tidak berlaku lagi istilah “yang tua yang mengalah”. Karena buktinya aku sebagai seorang yang lebih muda dan tergolong orang baru harus selalu dan sering mengalah dari mereka yang katanya udah tua. Ini terjadi di tempat aku kerja, di tempat dimana katanya profesionalitas itu harus diutamakan ketimbang kesenioritasan diri.

Dulu pertama kali masuk ke dunia kerja, aku pikir semua orang yang sudah bekerja itu profesional dan memang dituntut haru profesional ketimbang mementingkan ego sendiri. Menurutku, pengertian profesionalan itu tergantung siapa yang mengartikan, tapi kalo menurutku sendiri profesional itu adalah sebuah tindakan yang seharusnya dilakukan oleh setiap individu yang berkerja. Entah itu dalam bidang perkerjaan apapun, baik pekerjaan yang menuntuk gelar akademik atapun yang tidak memerlukan pangkat dan golongan seperti tukang becak ataupun buruh cangkul di sawah.

Tapi, nyatanya apa yang aku alami berbeda dengan bayanganku selama ini. Kenyataan di dunia kerja yang sekarang sedang aku jalani ini seperti mengesampingkan keprofesionalitasan dan lebih mementingkan rasa senioritas atau lebih halusnya dikatakan dengan “kekeluargaan”.

Akhirnya yang sekarang aku alami adalah aku harus selalu mengalah dengan mereka yang lebih tua dalam hal pekerjaan. Sering aku diharuskan untuk mengalah dan menerima apa yang seharusnya tidak aku terima (karena itu tidak menguntungkanku) dari rasa “kekeluargaan” yang katanya lebih utama dibandingkan keprofesionalitasan. Padahal, mereka yang udah tua-tua kan udah mendapatkan imbalan dari apa yang disebut dengan “ijazah profesional” mereka itu. Tapi ketanyataannya, ijazah itu hanya digunakan untuk mendapatkan tambahan imbalan  dan dibalas dengan ketidak profesionalan mereka dalam pekerjaan. Lebih nyesek di hati lagi adalah aku yang lebih muda selalu kena imbas dari rasa “kekeluargaan” itu.

Aku bukan tipe orang yang mau menerima sesuatu apa adanya tanpa tau sebab akibatnya, aku adalah tipe orang yang tidak mau dirugikan. Aku juga tipe orang yang tidak suka disalahkan kalau aku gak salah, dan aku tidak akan mengalah kalau aku tidak salah. Kalau aku mengalah aku kalah dan mereka akan bangga dan selalu menindas aku dengan rasa “kekeluargaan” mereka. Aku tidak pernah takut kehilangan pekerjaanku di tempat ini. Aku juga sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri kalau aku suatu hari nanti keluarkan (dipecat) dari tempat kerja ini karena sudah tidak dibutuhkan disini. Aku masih bertahan disini bukan karena mereka, tapi karena mencitai bidang ini, mencintai saat bertemau dengan klien-klienku dan ngobrol dengan mereka. Mencintai saat harus memberikan nasehat, menghabiskan waktu dengan klien-klienku ketimbang harus berduduk-duduk lama dan ngobrol di kantor dengan orang-orang yang sok profesional tapi sebenernya hanya mementingkan isi kantong mereka sendiri.

Gajiku tidak seberapa, bahkan bisa dikatakan kalah dengan para pekerja jahit yang ada di tempatku tinggal yang bisa mengumpulkan uang sehari 80rb. Jadi sudah kebayangkan berapa gajiku, tidak lebih dari mereka yang setiap hari harus bergelut dengan mesin jahit. Namun mungkin orang lebih menganggap pekerjaanku lebih prestis dari pada menjahit. Mungkin karena aku memiliki gelar akademik, meskipun aku lebih suka tidak menggunakan gelar akademikku itu dalam segala hal bahkan ketika aku harus menuliskan namaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s